Selasa, 18 Oktober 2011

Sampah Elektonik


Arfinisa Pratidina
51411067
1IA11

Sampah Elektronik

                Sekarang ini begitu banyak tersebar barang elektronik dari mulai Handphone,kulkas,televisi,pendingin ruangan (AC),dll.Tujuan kita mengetahui tentang sampah elektonik adalah mengetahui bagaimana barang-barang elektronik yang tidak bisa digunakan lagi di ubah menjadi barang yang bisa digunakan kembali.
Saya mendapatkan ide tersebut setelah saya melewati daerah di Tomang,Jakarta Pusat.Begitu banyak sekali saya melihat monitor computer yang sudah tidak terpakai menumpuk bagaikan sampah.Sampah elektronik “e-waste” merupakan limbah berbahaya karena sampah elektronik mengandung sekitar 1000 material, sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3) karena merupakan unsur berbahaya dan beracun seperti logam berat (merkuri, timbal, chromiun, kadmium, arsenik, dsb.), PVC, dan brominated flame-retardants. Merujuk PP Nomor 18 Tahun 1990 jo PP 85/1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, maka limbah tersebut tergolong limbah B3 berkarakter racun. 
Usaha untuk mendaur ulang sampah elektronik juga menghadapi masalah karena dalam prosesnya sulit dan berisiko tinggi terhadap para pekerja, serta menghasilkan produk-produk sekunder yang beracun. Sebagai contoh, proses extruding dalam kegiatan daur ulang plastik dari sampah elektronik dan proses recovery logam menghasilkan PBDE, dioksin, dan furan. Di Swedia contohnya, para pekerja yang bekerja di fasilitas daur ulang sampah elektronik setiap harinya terekspos PBDE yang lepas ke udara sehingga darahnya mengandung PBDE 70 kali lipat dibandingkan dengan paramedis di rumah sakit.
Pemusnahan atau pendaurualangan elektronik dengan laju produksi adalah barbanding terbalik, seperti komputer, mempunyai masa pakai yang semakin pendek karena produsen hardware dan software secara konstan menciptakan program-program baru untuk memenuhi kebutuhan akan proses data yang lebih cepat dan memori yang lebih besar. Dalam tahun 1997, masa pakai rata-rata CPU komputer antara 4 sampai 6 tahun dan monitor 6 sampai 7 tahun. Sementara itu, pada 2005 ini masa pakainya menjadi sekitar 2 tahun (US EPA, 1998). Selain itu, saat ini harga komputer relatif semakin murah sehingga lebih nyaman membeli komputer generasi baru daripada meng-upgrade yang lama.
Salah satu usaha untuk meminimalisir sampah elektronik adalah dengan menerapkan program extended producer responsibility (EPR), suatu program di mana produser bertanggung jawab mengambil kembali (take back) produk-produk yang tidak terpakai lagi. Tujuan dari EPR adalah untuk mendorong produser meminimalisir pencemaran dan mereduksi penggunaan sumber daya alam dan energi dari setiap tahap siklus hidup produk melalui rekayasa desain produk dan teknologi proses. Produser harus bertanggung jawab terhadap semua hal, termasuk akibat dari pemilihan material, proses manufaktur, pemakaian produk, dan pembuangannya.

Sumber  :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar